Rizal Manthovani, Dua Warna, dan Awal Pergerakan Komik Indonesia
reportase dari acara dialog komik di Kinokuniya
Tau toko buku Kinokuniya yang di Plaza Senayan, kan? Ada yang menyebutnya sebagai surga bagi pecinta buku dan komik impor, yang punya uang tentunya. Toko buku tersebut mengadakan acara diskusi tentang komik pada hari Jumat, 27 Agustus 2004, pukul 18.30. Hadir sebagai pembicara Uwi Mathovani & Rizal Manthovani yang datang belakangan. Sedangkan Hikmat Dharmawan yang dikenal sebagai pengamat komik bertindak sebagai moderator.
Pada kesempatan tersebut, tema yang diangkat adalah mengenai superhero dalam dunia komik. Rizal yang dikenal sebagai penggemar berat Superman, banyak bercerita tentang kegemarannya tersebut dan memamerkan koleksi-koleksi komik Supermannya. Ia bahkan memperlihatkan sebuah komik luar yang terjemahannya dikerjakan olehnya.
Acara dialog komik semacam ini direncanakan untuk diadakan secara reguler, sebagai agenda rutin dari toko buku terseut. Hal ini tentu sangat menggembirakan karena dengan semakin banyak acara tentang komik, akan menumbuhkan gairah bagi berkembangnya komik Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Alfi Zachkyelle yang hadir pada acara tersebut mengungkapkan fakta tentang komik Dua Warna-nya. “Edisi 5 sedang naik cetak” ia menjelaskan progres komik karyanya itu, “dan sekarang sedang mengexplore edisi 6. Setelah itu dicut.”
Dicut? Ya, disudahi! Dieliminasi, istilah yang sedang in sekarang.
“Gue gak tau alasan jelasnya,”Alfi menjelaskan, “mungkin karena penjualannya, karena gue sendiri gak pernah dikasih tahu laporan hasil penjualannya.” Lah, terus bagaimana komitmen berkoloni menerbitkan 10 episode komik Dua Warna dan komik
Alakazam yang peluncuran episode pertamanya disaksikan oleh Nurul Arifin tahun lalu, padahal saat itu Nurul Arifin ditemani oleh kedua anaknya (apa sehhh?). “Ya, mau gimana lagi? Gue sih siap aja ngerjain berapa episode pun, tapi kalau dari merekanya (M&C Gramedia, red) gak bisa?” Alfi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, yang tentu saja gak bisa saya jawab.
Ketika dikonfirmasikan kepada Uwi Mathovani sebagai orang yang sangat berperan pada proyek Koloni M&C tersebut, ia mengakui tentang penghentian produksi Dua Warna dan Alakazam setelah episode ke 6.
“Melihat sale-nya gak terlalu itu (menguntungkan? red), policy bisnis M&C saat itu memutuskan untuk tidak melajutkan komik Dua Warna dan Alakazam”.
Jadi ternyata saat memulai proyek koloni hanya berdasarkan bisnis, tanpa idealsimenya? “Koloni dibikin agar N&C nerbitin komik Indonesia. Maka dibuat label khusus di bawah M&C. Walau kita ingin konsisten, tapi ada faktor bisnis yang haus dipertimbangkan.”
Dengan pengalaman 7 tahun di M&C, Uwi yang sekarang tidak lagi bekerja di M&C menilai bahwa kondisi untuk
menerbitkan komik di Indonesia belum terlalu siap, baik dari sisi penerbit, komikus maupun pembaca.
Apabila di M&C Gramedia yang terjadi adalah akhir dari sebuah cerita, di sebuah perusahaan penerbitan bernama Terrant Books justru tengah terjalin sebuah cerita. Perusahaan penerbitan tersebut sekarang membuat divisi baru dengan label Terrant Comics khusus untuk menerbitkan komik.
“Pertama, karena saya suka baca komik, terutama yang tak biasa. Seperti komik eropa,” Aziz dari Terrant Comics menjelaskan tentang gebrakkannya menerbitkan tiga judul komik indie, Selamat Pagi Urbaz, 1001 Jagoan dan Mantra Pawitra. “Saya pikir kalau kita bisa membudayakan lagi komik-komik Indonesia kaya dulu, bisa aja kita merubah pola pikir pembaca komik sekarang untuk cinta lagi komik dalam negeri”.
Untuk sebuah penerbit buku yang bisa dibilang baru, langkah Terrant Books bisa dibilang berani dan harus didukung karena tak hanya semata-mata beralasan bisnis, melainkan didorong idealisme untuk memajukan komik Indonesia. Aziz pun menyadari
bahwa profit dari penjualan komik yang diterbitkannya tak akan bisa diperoleh dalam jangka pendek. Banyak yang berpendapat, banyaknya komik indie yang diterbitkan oleh perusahaan penerbitan merupakan sebuah awal dari pergerakan yang akan memajukan komik Indonesia.
Kalau kalian mendapatkan komik-komik yang diterbitkan oleh Terrant Comics, kalian bisa merasakan semangat independensi dari komik-komik tesebut, karena Terrant Comics memberikan ruang yang luas bagi para komikusnya untuk berkreativitas.
Terrant Comics masih membuka kesempatan bagi rekan-rekan komikus yang ingin menawarkan karyanya. Syaratnya standar saja, tema komik tidak sara dan tidak pornografi. Untuk menghubungi Terrant Comics bisa melalui email: terrantbooks@yahoo.com, atau bisa juga melalui alamat Jl. Cimahi No.628 Blok M Cinere Depok, tlp/fax: 754-1329. Selamat mencoba, siapa tahun komik kalian bisa menyusul rekan-rekan yang sudah masuk jalur major. [Fitra]
Tau toko buku Kinokuniya yang di Plaza Senayan, kan? Ada yang menyebutnya sebagai surga bagi pecinta buku dan komik impor, yang punya uang tentunya. Toko buku tersebut mengadakan acara diskusi tentang komik pada hari Jumat, 27 Agustus 2004, pukul 18.30. Hadir sebagai pembicara Uwi Mathovani & Rizal Manthovani yang datang belakangan. Sedangkan Hikmat Dharmawan yang dikenal sebagai pengamat komik bertindak sebagai moderator.
Pada kesempatan tersebut, tema yang diangkat adalah mengenai superhero dalam dunia komik. Rizal yang dikenal sebagai penggemar berat Superman, banyak bercerita tentang kegemarannya tersebut dan memamerkan koleksi-koleksi komik Supermannya. Ia bahkan memperlihatkan sebuah komik luar yang terjemahannya dikerjakan olehnya.
Acara dialog komik semacam ini direncanakan untuk diadakan secara reguler, sebagai agenda rutin dari toko buku terseut. Hal ini tentu sangat menggembirakan karena dengan semakin banyak acara tentang komik, akan menumbuhkan gairah bagi berkembangnya komik Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Alfi Zachkyelle yang hadir pada acara tersebut mengungkapkan fakta tentang komik Dua Warna-nya. “Edisi 5 sedang naik cetak” ia menjelaskan progres komik karyanya itu, “dan sekarang sedang mengexplore edisi 6. Setelah itu dicut.”
Dicut? Ya, disudahi! Dieliminasi, istilah yang sedang in sekarang.
“Gue gak tau alasan jelasnya,”Alfi menjelaskan, “mungkin karena penjualannya, karena gue sendiri gak pernah dikasih tahu laporan hasil penjualannya.” Lah, terus bagaimana komitmen berkoloni menerbitkan 10 episode komik Dua Warna dan komik
Alakazam yang peluncuran episode pertamanya disaksikan oleh Nurul Arifin tahun lalu, padahal saat itu Nurul Arifin ditemani oleh kedua anaknya (apa sehhh?). “Ya, mau gimana lagi? Gue sih siap aja ngerjain berapa episode pun, tapi kalau dari merekanya (M&C Gramedia, red) gak bisa?” Alfi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, yang tentu saja gak bisa saya jawab.
Ketika dikonfirmasikan kepada Uwi Mathovani sebagai orang yang sangat berperan pada proyek Koloni M&C tersebut, ia mengakui tentang penghentian produksi Dua Warna dan Alakazam setelah episode ke 6.
“Melihat sale-nya gak terlalu itu (menguntungkan? red), policy bisnis M&C saat itu memutuskan untuk tidak melajutkan komik Dua Warna dan Alakazam”.
Jadi ternyata saat memulai proyek koloni hanya berdasarkan bisnis, tanpa idealsimenya? “Koloni dibikin agar N&C nerbitin komik Indonesia. Maka dibuat label khusus di bawah M&C. Walau kita ingin konsisten, tapi ada faktor bisnis yang haus dipertimbangkan.”
Dengan pengalaman 7 tahun di M&C, Uwi yang sekarang tidak lagi bekerja di M&C menilai bahwa kondisi untuk
menerbitkan komik di Indonesia belum terlalu siap, baik dari sisi penerbit, komikus maupun pembaca.
Apabila di M&C Gramedia yang terjadi adalah akhir dari sebuah cerita, di sebuah perusahaan penerbitan bernama Terrant Books justru tengah terjalin sebuah cerita. Perusahaan penerbitan tersebut sekarang membuat divisi baru dengan label Terrant Comics khusus untuk menerbitkan komik.
“Pertama, karena saya suka baca komik, terutama yang tak biasa. Seperti komik eropa,” Aziz dari Terrant Comics menjelaskan tentang gebrakkannya menerbitkan tiga judul komik indie, Selamat Pagi Urbaz, 1001 Jagoan dan Mantra Pawitra. “Saya pikir kalau kita bisa membudayakan lagi komik-komik Indonesia kaya dulu, bisa aja kita merubah pola pikir pembaca komik sekarang untuk cinta lagi komik dalam negeri”.
Untuk sebuah penerbit buku yang bisa dibilang baru, langkah Terrant Books bisa dibilang berani dan harus didukung karena tak hanya semata-mata beralasan bisnis, melainkan didorong idealisme untuk memajukan komik Indonesia. Aziz pun menyadari
bahwa profit dari penjualan komik yang diterbitkannya tak akan bisa diperoleh dalam jangka pendek. Banyak yang berpendapat, banyaknya komik indie yang diterbitkan oleh perusahaan penerbitan merupakan sebuah awal dari pergerakan yang akan memajukan komik Indonesia.
Kalau kalian mendapatkan komik-komik yang diterbitkan oleh Terrant Comics, kalian bisa merasakan semangat independensi dari komik-komik tesebut, karena Terrant Comics memberikan ruang yang luas bagi para komikusnya untuk berkreativitas.
Terrant Comics masih membuka kesempatan bagi rekan-rekan komikus yang ingin menawarkan karyanya. Syaratnya standar saja, tema komik tidak sara dan tidak pornografi. Untuk menghubungi Terrant Comics bisa melalui email: terrantbooks@yahoo.com, atau bisa juga melalui alamat Jl. Cimahi No.628 Blok M Cinere Depok, tlp/fax: 754-1329. Selamat mencoba, siapa tahun komik kalian bisa menyusul rekan-rekan yang sudah masuk jalur major. [Fitra]

4 Comments:
Blognya sangat informatif.
Salam,
Santy - IdeBaru.com
salam kenal, aku ni juga ingin menjadi komikus terkenal tapi masalah nnya tidak ada orag yang mendukung ku..., menjadi komikus juga merupakan keinginanku untuk memajukan indonesia.
andaikan saja bisa....~
Salam kenal, aku suka bgt gambar and waktu kecil seneng bgt bikin komik. Jujur..... aku pengen banget menjadi seorang komikus Nasional. Bisa ga' ya seorang amatiran kayak aku bisa jadi seorang komikus profesional....?
Keep Spirit deh buat komikus Indonesia!(^_^) -reaz_one-
Salam kenal, aku suka bgt gambar and waktu kecil seneng bgt bikin komik. Jujur..... aku pengen banget menjadi seorang komikus Nasional. Bisa ga' ya seorang amatiran kayak aku bisa jadi seorang komikus profesional....?
Keep Spirit deh buat komikus Indonesia!(^_^) -reaz_one-
Post a Comment
<< Home